Pengantar Aqidah Tauhid Segala puji bagi Allah yang Maha Tunggal Dzat dan Sifat-Nya, yang mengutus Junjungan kita Muhammad sholla Allahu 'alaihi wa sallam untuk makhluk dengan Tauhid/mengesakan Allah dengan ayat-ayat-Nya yang cemerlang. Rahmat dan salam penghormatan atas Nabi Muhammad, pengantin para Rasul, penghulu setiap orang yang bagimu atasnya kepenghuluan, juga atas keluarganya, shahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan dan penambahan. Wajib syar'i atas setiap mukallaf (baligh, berakal, telah sampai dakwah Rasulullah SAW) untuk meyakini dengan mantap segala yang wajib, mustahil, dan jaiz bagi Allah ta'ala, serta bagi para Rasul 'alaihim as-sholatu wa ssalam. Definisi Wajib, Mustahil, Jaiz Wajib: Sesuatu/perkara yang tidak mungkin tidak ada. Contoh: Dzat dan Sifat Allah ta'ala. Mustahil: Sesuatu/perkara yang tidak mungkin ada. Contoh: Tidak menempatnya jirim/benda, adanya sekutu bagi Allah. Jaiz: Sesuatu/perkara yang mungkin ada dan tidaknya. Contoh: Diutusnya para Rasul, diganjarnya orang taat, adanya anak bagi Zaid. Sifat-sifat Wajib bagi Allah Ta'ala (20 Sifat) Dua puluh sifat wajib bagi Allah, dua puluh sifat mustahil bagi-Nya, dan satu sifat jaiz. Total 41 aqidah. Untuk para Rasul, empat sifat wajib, empat sifat mustahil, dan satu sifat jaiz. Total sembilan sifat. Jika digabungkan dengan 41 sifat Allah, maka ada 50 aqidah yang wajib diyakini setiap mukallaf. 1. Wujud (Ada) Makna: Allah itu ada, bukan tidak ada. Dalil: Adanya alam semesta ini. Alam semesta adalah baru (hadits), dan setiap yang baru pasti ada yang membuatnya. Pembuat alam semesta ini adalah Allah. Pembahasan: Sifat wujud bukan tambahan atas Dzat Allah, melainkan Dzat Allah itu sendiri. 2. Qidam (Dahulu/Tanpa Permulaan) Makna: Allah itu tidak berpermulaan. Dalil: Jika Allah tidak qidam, maka Dia baru (hadits). Jika Dia baru, maka Dia membutuhkan pencipta. Ini akan berujung pada tasalsul (rantai tak berujung) atau daur (berputar), yang keduanya mustahil. Maka, qidam adalah wajib bagi Allah. 3. Baqo' (Kekal/Tanpa Akhir) Makna: Allah itu tidak berkesudahan. Dalil: Jika Allah boleh binasa, maka Dia baru (hadits). Ini mustahil, karena qidam-Nya telah terbukti. 4. Mukholafatuhu lil Hawaditsi (Berbeda dengan Makhluk) Makna: Allah tidak menyerupai makhluk-Nya, baik pada Dzat, Sifat, maupun Perbuatan-Nya. Dalil: Jika Allah menyerupai makhluk, maka Dia akan baru. Ini mustahil, karena akan menimbulkan tasalsul atau daur. 5. Qiyamuhu bi Nafsihi (Berdiri Sendiri) Makna: Allah tidak membutuhkan tempat (mahal) dan tidak membutuhkan pencipta (mukhashish). Dalil: Jika Allah membutuhkan mahal, Dia akan bersifat seperti sifat (yang membutuhkan tempat). Jika membutuhkan mukhashish, Dia akan baru. Keduanya mustahil. 6. Wahdaniyah (Maha Esa) Makna: Allah itu esa/tunggal dalam Dzat, Sifat, dan Perbuatan-Nya. Dalil: Adanya alam semesta yang teratur. Jika ada lebih dari satu Tuhan, akan terjadi kerusakan (perselisihan). Kam-kam yang dinafikan: Kam Munfashil pada Dzat: Adanya Dzat lain yang menyerupai Dzat Allah. Kam Muttashil pada Dzat: Dzat Allah tersusun dari bagian-bagian. Kam Munfashil pada Sifat: Adanya sifat lain yang menyerupai sifat Allah. Kam Muttashil pada Sifat: Adanya dua sifat dengan nama dan makna yang sama pada Allah (misal: dua qudrat). Kam Munfashil pada Perbuatan: Adanya perbuatan makhluk yang tidak diciptakan Allah. 7. Qudroh (Berkuasa) Makna: Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu yang mungkin, menciptakan dan meniadakan. Dalil: Adanya alam semesta. Jika Allah tidak berkuasa, maka Dia lemah, dan alam semesta tidak akan ada. Ta'alluq Qudroh: Hanya berkaitan dengan perkara yang mungkin (jaiz), tidak dengan yang wajib atau mustahil. 8. Irodah (Berkehendak) Makna: Allah Maha Berkehendak, menentukan segala sesuatu yang mungkin dengan sebagian sifat yang boleh atasnya. Dalil: Adanya alam semesta. Jika Allah tidak berkehendak, maka Dia terpaksa. Jika terpaksa, Dia lemah. Ta'alluq Irodah: Berkaitan dengan perkara yang mungkin (jaiz). Dua Ta'alluq Irodah: Ta'alluq Shuluhi Qodim: Kelayakan irodah pada azali untuk menentukan segala yang mungkin. Ta'alluq Tanjizi Qodim: Penentuan sifat irodah pada azali terhadap perkara yang mungkin dengan sifat yang ada padanya (ada/tiada, putih/hitam, dsb.). 9. Ilmu (Mengetahui) Makna: Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, baik yang wajib, jaiz, maupun mustahil, dengan pengetahuan yang sempurna tanpa keraguan. Dalil: Adanya alam semesta. Jika Allah tidak mengetahui, maka Dia bodoh, dan tidak akan ada alam semesta. Ta'alluq Ilmu: Tanjizi Qodim: Mengetahui segala yang wajib, mustahil, dan jaiz pada azali. Mengetahui segala yang ada (kulliyyat dan juz-iyyat) di alam semesta. 10. Hayat (Hidup) Makna: Allah Maha Hidup, dengan kehidupan yang azali dan tidak bergantung pada ruh/nyawa. Dalil: Adanya alam semesta. Jika Allah tidak hidup, maka Dia mati, dan sifat-sifat ma'ani (qudrah, iradah, ilmu, sama', bashar, kalam) tidak akan ada. 11. Sama' (Mendengar) Makna: Allah Maha Mendengar segala sesuatu yang maujud (ada), baik Dzat maupun suara, tanpa telinga atau alat pendengaran. Dalil: Kitab dan Sunnah. Jika Allah tidak mendengar, maka Dia tuli, dan tuli adalah kekurangan yang mustahil bagi Allah. 12. Bashar (Melihat) Makna: Allah Maha Melihat segala sesuatu yang maujud (ada), baik Dzat maupun suara, tanpa mata atau kelopak mata. Dalil: Kitab dan Sunnah. Jika Allah tidak melihat, maka Dia buta, dan buta adalah kekurangan yang mustahil bagi Allah. 13. Kalam (Berfirman/Berbicara) Makna: Allah Maha Berfirman, dengan firman yang azali, tidak berupa huruf atau suara, dan tidak berpermulaan. Dalil: Firman Allah dalam Al-Qur'an "و كلم الله موسى تكليما" (Dan Allah berbicara kepada Musa dengan sebenar-benar bicara). Jika Allah tidak berbicara, maka Dia bisu, dan bisu adalah kekurangan yang mustahil bagi Allah. Kalam Allah (lafadz munazzal): Al-Qur'an (lafadz yang diturunkan) adalah baru (hadits), diciptakan Allah, dan menunjukkan kalam Allah yang qodim. 14. Kaunuhu Qodiron (Keadaan-Nya Maha Kuasa) Makna: Keadaan Allah yang Maha Kuasa. Ini adalah sifat i'tibari (konseptual) yang melazimi sifat Qudroh. Dalil: Dalil bagi sifat Qudroh. 15. Kaunuhu Muriidan (Keadaan-Nya Maha Berkehendak) Makna: Keadaan Allah yang Maha Berkehendak. Ini adalah sifat i'tibari yang melazimi sifat Irodah. Dalil: Dalil bagi sifat Irodah. 16. Kaunuhu 'Aliman (Keadaan-Nya Maha Mengetahui) Makna: Keadaan Allah yang Maha Mengetahui. Ini adalah sifat i'tibari yang melazimi sifat Ilmu. Dalil: Dalil bagi sifat Ilmu. 17. Kaunuhu Hayyan (Keadaan-Nya Maha Hidup) Makna: Keadaan Allah yang Maha Hidup. Ini adalah sifat i'tibari yang melazimi sifat Hayat. Dalil: Dalil bagi sifat Hayat. 18. Kaunuhu Samii'an (Keadaan-Nya Maha Mendengar) Makna: Keadaan Allah yang Maha Mendengar. Ini adalah sifat i'tibari yang melazimi sifat Sama'. Dalil: Dalil bagi sifat Sama'. 19. Kaunuhu Bashiiron (Keadaan-Nya Maha Melihat) Makna: Keadaan Allah yang Maha Melihat. Ini adalah sifat i'tibari yang melazimi sifat Bashar. Dalil: Dalil bagi sifat Bashar. 20. Kaunuhu Mutakalliman (Keadaan-Nya Maha Berfirman) Makna: Keadaan Allah yang Maha Berfirman. Ini adalah sifat i'tibari yang melazimi sifat Kalam. Dalil: Dalil bagi sifat Kalam. Sifat Jaiz bagi Allah Ta'ala Berbuat segala yang mungkin atau meninggalkannya: Allah boleh menciptakan atau tidak menciptakan sesuatu yang mungkin. Tidak ada kewajiban bagi Allah untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu, karena hal itu akan menunjukkan kekurangan pada Dzat-Nya. Sifat-sifat Wajib bagi Para Rasul (4 Sifat) Para Rasul memiliki 4 sifat wajib, 4 sifat mustahil, dan 1 sifat jaiz. 1. Shidiq (Jujur) Makna: Jujur dalam segala ucapan mereka. Dalil: Jika mereka berbohong, maka kabar Allah akan bohong, padahal Allah telah membenarkan mereka dengan mukjizat. 2. Amanah (Dapat Dipercaya) Makna: Terjaga dari melakukan perkara haram atau makruh, baik lahir maupun batin, sejak kecil hingga dewasa. Dalil: Jika mereka berkhianat, kita diperintahkan untuk mengikuti mereka, padahal Allah tidak memerintahkan kejelekan. 3. Tabligh (Menyampaikan) Makna: Menyampaikan segala wahyu yang diperintahkan Allah untuk disampaikan kepada makhluk. Dalil: Jika mereka menyembunyikan, kita diperintahkan untuk menyembunyikan ilmu, padahal penyembunyi ilmu dilaknat. Tiga bagian wahyu: Yang tidak boleh disampaikan (khusus bagi Rasul). Yang boleh disampaikan atau tidak (pilihan bagi Rasul). Yang wajib disampaikan (telah disampaikan sepenuhnya). 4. Fathonah (Cerdas) Makna: Cerdas dan pandai dalam menghadapi lawan-lawan mereka. Dalil: Jika mereka tidak cerdas, mereka tidak akan mampu menegakkan hujjah (argumentasi) atas lawan. Para Rasul yang Wajib Diketahui Wajib bagi setiap mukallaf untuk mengenal 25 Rasul secara terperinci. Nama-nama mereka disebutkan dalam Al-Qur'an. Idris, Nuh, Hud, Sholih, Ibrahim, Luth, Ismail, Ishaq, Ya'qub, Yusuf, Ayyub, Syu'aib, Musa, Harun, Ilyas, Dzulkifli, Daud, Sulaiman, Yunus, Zakariya, Yahya, Isa, Muhammad. Para Malaikat Wajib beriman kepada para malaikat. Dibagi dua: Iman terperinci: Empat malaikat utama: Jibril, Mikail, Israfil, Izrail. Iman ijmal: Malaikat selain empat tersebut, yang jumlahnya tidak diketahui kecuali oleh Allah, selalu taat dan tidak pernah durhaka. Keutamaan Nabi Muhammad SAW Nabi Muhammad SAW adalah makhluk yang paling utama secara mutlak, lebih utama dari semua Rasul dan malaikat. Urutan keutamaan Ulul Azmi: Muhammad, Ibrahim, Musa, Isa, Nuh. Sifat Jaiz bagi Para Rasul Terjadinya sifat-sifat kemanusiaan: Seperti makan, minum, tidur, sakit, menikah. Ini tidak mengurangi derajat kemuliaan mereka, bahkan dapat menambah kemuliaan mereka. Perkara yang Datang dari Nabi Muhammad SAW Isro' dan Mi'raj: Perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Masjidil Aqsha, lalu naik ke langit, dengan jasad dan ruh. Pertanyaan Kubur: Mayit akan ditanya oleh malaikat Munkar dan Nakir tentang aqidah mereka. Jepitan Kubur: Terjadi sebelum pertanyaan kubur. Kenikmatan bagi mukmin taat, siksaan bagi kafir dan mukmin durhaka. Ba'ats (Kebangkitan) dan Hasyr (Pengumpulan): Dihidupkannya kembali orang mati dan dikumpulkan di padang mahsyar untuk dihisab. Hisab (Perhitungan Amal): Allah menghitung amal perbuatan hamba-Nya. Mudah bagi orang taat, sulit bagi kafir dan mukmin durhaka. Mizan (Timbangan Amal): Amal perbuatan akan ditimbang di timbangan yang hakiki, dengan cahaya untuk kebaikan dan kegelapan untuk kejelekan. Syafa'at 'Uzhma: Syafa'at Nabi Muhammad SAW pada hari kiamat. Juga syafa'at para Nabi, wali, dan anak-anak. Siroth (Jembatan): Jembatan yang membentang di atas neraka Jahannam, lebih tipis dari rambut dan lebih tajam dari pedang. Haudh (Telaga): Telaga Nabi Muhammad SAW, airnya lebih putih dari susu dan lebih manis dari madu. Ru'yatullah (Melihat Allah): Orang-orang mukmin akan melihat Dzat Allah di akhirat, tanpa kaif (cara) dan tanpa batasan. Laa ilaaha illaa Allah Muhammad Rosulullah (Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad Utusan Allah) adalah inti dari 50 aqidah wajib. Semoga Allah menjadikan kita, orang tua, guru, dan kekasih kita termasuk ahli keadaan yang paling sempurna tersebut, dengan barokah Nabi Muhammad SAW. Selesailah penulisan kitab Ad-Durrul Farid fii 'Aqooidi Ahli at-Tauhid.